Kamis, 10 November 2011

Manusia sebagai HOMO SAPIENS :
Homo SAPIENS adalah mahluk yang berpikir sehingga merupakan mahluk yang cerdas
dan bijaksana. Dengan daya pikirnya manusia dapat berpikir apakah yang sebaiknya
dilakukan pada masa sekarang atau masa yang akan datang berdasar kan pertimbangan
masa lalu yang merupakan pengalaman. Pemikiran yang sifatnya abstrak merupakan
salah satu wujud budaya manusia yang kemudian diikuti wujud budaya lain, berupa
tindakan atau perilaku, ataupun kemampuan mengerjakan suatu tindakan.

Manusia sebagai HOMO FABER:
Homo Faber : artinya manusia dapat membuat alat-alat dan mempergunakannya atau
disebut sebagai manusia kerja dengan salah satu tindakan atau wujud budayanya berupa
barang buatan manusia (artifact). Manusia menciptakan alat-alat karena menyadari
kemampuan inderanya terbatas, sehingga diupayakan membuat peralatan sebagai sarana
pembantu untuk mencapai tujuan. Misalnya, karena indera matanya tidak mampu melihat
angkasa luar atau mahluk kecil-kecil maka diciptakan teropong bintang dan mikroskop,
karena terbatasnya kekuatan fisik maka diciptakannya roda sebagai sarana utama
keretauntuk mengangkut barang-barang berat.

Manusia sebagai HOMO LANGUENS:
Homo Languens: adalah manusia dapat berbicara sehingga apa yang menjadi pemikiran
dalam otaknya dapat disampaikan melalui bahasa kepada manusia lain. Bahasa
sebagai ekspresi dalam tingkat biasa adalah bahasa lisan. Antara suku bangsa dengan
suku bangsa lain terdapat perbedaan bahasa. Di tingkat bangsa, perbedaan bahasa
tersebut akan semakin jauh. Perbedaan lebih tinggi diwujudkan dalam tulisan sehingga
sebuah pemikiran dapat diterima oleh bangsa atau generasi bangsa lain (bila tahu
mengartikannya).

Manusia sebagiai HOMO SOCIUS:
Manusia sebagai HOMO SOCIUS artinya manusia dapat hidup bermasyarakat, bukan
bergerombol seperti binatang yang hanya mengenal hukum rimba, yaitu yang kuat yang
berkuasa. Manusia bermasyarakat diatur dengan tata tertib demi kepentingan bersama.
Dalam masyarakat manusia terjadi tindakan tolong-menolong. Dengan tindakan itu,
walaupun fisiknya relatif lemah, tetapi dengan kemampuan nalar yang panjang tujuan-
tujuan bermasyarakat dapat dicapai.

Manusia sebahai HOMO ECCONOMICUS
Artinya manusia dapat mangadakan usaha atas dasar perhitungan ekonomi (homo
economicus). Salah satu prinsip dalam hukum ekonomi adalah, bahwa semua
kegiatan harus atas dasar untung-rugi, untung apabila input lebih besar daripada
output, rugi sebaliknya. Dalam tingkat sederhana manusia mencukupi kebutuhannya
sendiri, kemudian atas dasar jasa maka dikembangkan sistem pasar sehingga hasil
produksinya dijual di pasaran. Makin luas pemasaran barang makin banyak diperoleh
keuntungan. Salah satu usaha meningkatkan produktivitas kerja dapat dijalankan dengan
mempergunakan teknologi modern sehingga dapat ditingkatkan produktivitas kerja

manusia.

Manusia sebagai HOMO RELIGIUS
Artinya manusia menyadari adanya kekauatan ghaib yang memiliki kemampuan lebih
hebat daripada kemampuan manusia, sehingga menjadikan manusia berkepercayaan atau
beragama. Dalam tahap awal lahir animisme, dinamisme, dan totenisme yang sekarang
dikategorikan sebagai kepercayaan, kadang-kadang dikatakan sebagai agama alami.
Kemusian lahirlah kepercayaan yang disebut sebagai agama samawi yang percaya kepada
Tuhan Yang Maha Esa, percaya kepada nabiNya, dan kitab suciNya yang dipergunakan
sebagai pedoman.

Manusia sebagai HOMO HUMANUS dan HOMO AESTETICUS:
Artinya manusia berbudaya, sedangkan homo aesteticus artinya manusia yang tahu akan
keindahan. Dari perbedaan-perbedaan yang sedemikian banyak makin nyata bahwa
manusia memang memilki sifat-sifat yang unik yang jauh berbeda dari pada hewan
apalagi tumbuhan. Sehingga manusia tidak dapat disamakan dengan binatang atau
tumbuhan

SEJARAH EKONOMI INDONESIA ORDE LAMA

Selama Pemerintahan Orde Lama, keadaan perekonomian Indonesia sangat buruk, walaupun sempat mengalami pertumbuhan dengan laju rata-rata per tahun hampir 7% selama dekade 1950-an, dan setelah itu turun drastis menjadi rata-rata per tahun hanya 1,9% atau bahkan nyaris mengalami stagflasi selama tahun 1965-1966. Tahun 1965 dan 1966 laju pertumbuhan ekonomi atau produk domestic bruto (PDB) masing-masing hanya sekitar 0,5% dan 0,6%.
Tingginya tingkat inflasi yang sempat mencapai lebih dari 300% menjelang akhir periode Orde Lama
Kabinet Hatta : reformasi moneter melalui devaluasi mata uang nasional yang pada saat itu masih gulden dan pemotongan uang sebesar 50% atas semua uang kertas yang beredar pada bulan Maret 1950 yang dikeluarkan oleh De Javasche Bank yang bernilai nominal lebih dari 2,50 gulden Indonesia
  Kabinet Natsir : untuk pertama kalinya dirumuskan suatu perencanaan pembangunan ekonomi, yang disebut Rencana Urgensi Perekonomian (RUP)
Kabinet Sukiman : Nasionalisasi De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia (BI) dan penghapusan system kurs berganda 
  Pada masa Kabinet Ami I, hanya dua langkah konkret yang dilakukan dalam bidang ekonomi, yakni pembatasan impor dan kebijakan uang ketat
   Kabinet Burhanuddin, tindakan-tindakan ekonomi penting yang dilakukan termasuk diantaranya adalah liberalisasi impor, kebijkan uang ketat untuk menekan laju uang beredar, dan penyempurnaan Program Benteng, mengeluarkan kebijakan yang memperbolehkan modal (investasi) asing masuk ke Indonesia, pemberian bantuan khusus kepada pengusaha-pengusaha pribumi, dan pembatalan (secara sepihak) persetujuan Konferensi Meja Bundar sebagai usaha untuk menghilangkan system ekonomi kolonial atau menghapuskan dominasi perusahaan-perusahaan Belanda dalam perekonomian Indonesia
Kabinet Ali I, praktis tidak ada langkah-langkah yang berarti, selain mencanangkan sebuah rencana pembangunan baru dengan nama Rencana Lima Tahun 1956-1960
Pada masa Kabinet Djuanda : dilakukan pengambilan (nasionalisasi) perusahaan-perusahaan Belanda
 

 
 
 
 
 

Senin, 31 Oktober 2011

Proposal


KONTRIBUSI KELOMPOK ILMIAH REMAJA (KIR) DALAM MENGEMBANGKAN KREATIVITASMENULIS SISWA DI MAN KOTA BLITAR
            Kelompok Ilmiah Remaja merupakan kegiatan ekstrakulikuler yang ,emiliki peranan penting dalam meningkatkan kreatifitas menulis siswa.di sisi lain kreatifitas menulis perlu dibangun sejak dini dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, sebab hal tersebut benar-benar akan dibutuhkan oleh para siswa ketika menghadapi kehidupan global nantiny, dimana kehidupan manusia sudah di hadapkan pada dunia ide dan gagasan, maka dialah yang akan menjadi manusia yang mampu membawa dan mengendalikan perkembangan yang terjadi.
Rumusan masalah:
1.      Bagaimana kontribusi Kelompok Ilmiah Ramaja Remaja (KIR) dalam mengembangkan kreativitas menulis siswa di MAN kota Blitar?
2.      Bagaimana metode dan strategi Kelompok Ilmiah Ramaja Remaja (KIR) dalam mengembangkan kreativitas menulis siswa di MAN kota Blitar?
Tujuan penelitian:
1.      Untuk mengetahui bagaimana kontribusi Kelompok Ilmiah Ramaja Remaja (KIR) dalam mengembangkan kreativitas menulis siswa di MAN kota Blitar?
2.      Untuk mengetahui bagaimana metode dan strategi Kelompok Ilmiah Ramaja Remaja (KIR) dalam mengembangkan kreativitas menulis siswa di MAN kota Blitar?



Metode penelitian:
Dalam menulis data, penulis menggunakan alat analisis deskriptif kualitatif, dimana data-data yang telah dihasilkan baik secara teoritis maupun empiris disajikan dalam bentuk kata-kata atau kalimat secara benar dan jelas, sesuai dengan proses yang terjadi dilapangan. Selain itu, penelitian metode kualitatif dengan jenis studi kasus ini menggunakan tiga teknik pengumpulan data yaitu, 1) Wawancara atau interview, 2) Observasi, serta 3) dokumentasi.
Hasil penelitian:
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kegiatan ekstrakulikuler KIR di MAN Kota Blitar memiliki peranan yang sangat penting dalam meningkatkan kreativitas menulis siswa, pengembangan kegiatan ekstrakulikuler dilakukan melalui berbagai cara dan strategi yang memungkinkan dan mampu menjawab kebutuhan para siswanya, sedangkan metode dan srategi yang digunakan dalam kegiatan ini lebih menekankan pada pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna serta luwes, sehingga proses pembelajaran tidak hanya dilakukan dikelas atau sekolah tapi juga diluar sekolah melalui outbond.
Kesimpulanya adalah bahwa kontribusi kegiatan ekstrakulikuler di MAN Kota Blitar benar-benar berarti bagi para siswa dalam meningkatkan kreatifitas menulis, pengembangan yang dilakukan selalu mengedepankan pada adanya perubahan dan kebutuhan yang terjadi dan metode serta strategi yang digunakan dalam kegiatan yang menyenangkan dan bermakna bagi para siswa.

Senin, 04 Juli 2011

Judul Skripsi

UPAYA GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PEMBINAAN SHALAT SISWA SEKOLAH DASAR NEGERI KETAWANGGEDE II MALANG
Rumusan masalah:
1. Bagaimana upaya Guru Pendidikan Agama Islam dalam pembinaan shalat siswa Sekolah Dasar Negeri Ketawanggede II Malang?
2. Bagaimana hasil pembinaan shalat siswa Sekolah Dasar Negeri Ketawanggede II Malang?
Tujuan penelitian:
1. Mengetahui upaya Guru Pendidikan Agama Islam dalam pembinaan shalat siswa Sekolah Dasar Negeri Ketawanggede II Malang?
2. Mengetahui hasil pembinaan shalat siswa Sekolah Dasar Negeri Ketawanggede II Malang?
Metode penelitian:
Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif kualitatif, yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif; ucapan atau tulisan dan perilaku yang langsung dapat diamati orang-orang (subjek) itu sendiri. Pendekatan ini langsung menunjukkan latar dan individu-individu dalam latar itu sendiri secara keseluruhan, subjek penyelidikan, baik berupa organisasi maupun individu, tidak dipersempit menjadi variabel yang terpisah atau menjadi hipotesis, melainkan dipandang sebagai bagian dari suatu keseluruhan. Jadi penelitian ini tidak diarahkan untuk menguji hipotesis (asumsi sementara). Teknik sampling penelitian ini adalah Purposive Sampling serta dalam perjalanan pengumpulan datanya, peneliti menggunakan metode observasi, interview (mewawancarai guru PAI yang ada, kepala sekolah, guru-guru umum, dan sebagian peserta didik), dan dokumentasi. Sedangkan analisisnya, peneliti menggunakan analisis induktif yang berarti bahwa kategori, tema dan pola berasal dari data atau dengan menggunakan teknik analisis deskiptive analysis, yaitu dengan cara memadukan data yang otentik dengan berfikir induksi untuk kemudian menghasilkan kesimpulan, pengecekan keabsahan data, peneliti memakai triangulasi.
Hasil penelitian:
Hasil penelitian yang dilakukan dapat disampaikan bahwasanya Guru Pendidikan Agama Islam SDN ketawanggede II Malang sudah menjalankan peran dan tugasnya dengan baik sebagai Guru agama terutama kaitanya dengan pembinaan shalat, upaya yang dilakukan oleh guru PAI dalam pembinaan shalat siswa SDN ketawanggede II Malang berjalan baik dan sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Said mursi bahwa dalam membina ibadah anak didasarkan pada dua sisi yakni sisi teori dan sisi praktis. Manivestasinya adalah: pertama kali yang dilakukan Guru PAI dalam membina shalat siswa ialah melalui kegiatan belajar-mengajar (KMB), yakni dengan pemberian materi shalat, Guru PAI membina shalat siswa dengan mengadakan praktik secara langsung, dengan memberikan contoh gerakan shalat dan pengawasan, pemberian hukuman terhadap siswa yang kurang mengindahkan anjuran shalat. Adapun hasil dari pembinaan shalat tersebut kurang begitu baik, indikatornya antara lain: dengan berjalanya jadual shalat dhuhur berjamaah, tetap saja masih terdapat siswa yang kadang mengacuhkanya dan tidak mengikuti shalat berjamaah, paa siswanya kurang begitu memahami konsep shalat secara penuh, masih terdapat kesalahan-kesalahan dalam gerakan-gerakan shalat. Hal ini dikarenakan kurang adanya dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar selain alokasi pelajaran agama pada jenjang sekolah dasar terbatas adanya.

Profil

Foto saya
Malang, Jawa Timur, Indonesia

Total Tayangan Halaman

Pengikut Aktif